Propaganda Bawah Umur

April 16th, 2007 by aulianaratama

Perang bukan hanya adu senjata, adu jotos, atau adu kekuatan. Perang juga bisa juga adu propaganda. Bayangkan negara-negara yang berperang di masa Perang Dunia II, mereka berlomba-lomba membuat suatu propaganda bahwa negara mereka adalah pihak yang benar.

Propaganda tidak hanya untuk kaum aqil balikh. Kaum yang sudah cukup umur dan dewasa. Propaganda ternyata juga mengambil segmen bawah umur, bahkan balita.

Pernah membayangkan bagaimana Amerika Serikat mempropaganda rakyatnya agar mereka bergabung dengan angkatan bersenjata? Yang paling umum ditemui adalah poster "UNCLE SAM WANTS YOU TO JOIN US NAVY". Pernah berpikir bagaimana AS mempropaganda anak-anak? Anak-anak tidak cukup dengan poster seperti itu. Propaganda tersebut melalui kotak gambar ajaib bernama televisi. Cukup dengan televisi yang menyiarkan suara-suara Presiden mereka yang mengklaim bahwa negara mereka yang benar? Tidak. Anak-anak tidak akan mengerti. Anak-anak selalu menonton acara mereka sendiri, yaitu kartun. Ya, kartun ternyata bagian dari propaganda.

Apakah anda tahu makna Popeye The Sailorman? Memang pada awalnya kartun itu dibuat agar anak-anak doyan makan bayam, tetapi dibalik itu ada sebuah misi lain. Yaitu mengajak anak-anak agar menjadi sailor atau pelaut atau navy. Singkatnya Join the Navy.

Everybody knows Tom and Jerry right? Everybody loves ir.. eh.. Tom and Jerry. Kartun klasik yang paling spektakuler (with violence in it). Para musisi dan budak suara pasti akan mengagumi kartun itu sebagai kartun dengan live scoring oleh big band. Tapi dibalik itu semua, US Navy menggunakan sosok Tom sebagai simbol pesawat F-14 mereka untuk propaganda.

Donald Duck atau Donal Bebek, salah satu kreasi Walt Disney pun turut membantu propaganda ini. Tidak hanya untuk US tapi dipakai juga oleh Nazi. Donald ditampilkan di dalam film kartun berjudul "Der Fuehrer’s Face" di tahun 1943. Ia berperan sebagai pekerja kasar yang bekerja overtime dan  ia merasa lebih bersemangat ketika melihat foto Hittler yang tergantung di dinding kamarnya. Donald juga berperan sebagai kadet US Army yang dilatih oleh Sergeant Pete untuk menyabotase basis tentara Jepang. Beberapa film yang dibintangi Donald yang berperan sebagai kadet US Army antara lain:

 * Donald Gets Drafted - (May 1, 1942).

 * The Vanishing Private - (September 25,
1942).

 * Sky Trooper - (November 6, 1942).

 * Fall Out Fall In - (April 23, 1943).

 * The Old Army Game - (November 5, 1943).

 * Home Defense - (November 26, 1943).

 * Commando Duck - (June 2, 1944).

Donald juga dipakai untuk simbol-simbol squadron atau artwork di pesawat tempur. Bahkan dibeberapa bom pernah ditemukan artwork Donald. Setelah peristiwa Pearl Harbour pun ada beberapa armada kapal perang yang dinamakan Donald Duck Navy.

Untunglah setelah Perang Dunia II ini, ada regulasi untuk pembatasan propaganda terutama untuk anak-anak. Tapi dunia ini panggung propaganda ya?

Vokalis Mister X

April 13th, 2007 by aulianaratama

JEGER! Udah kayak disamber gledek waktu denger curhatan dari teman saya. Sebutlah saja teman saya itu Mr. X yang mempunya band yang cukup potensial. Malam itu dia curhat karena bandnya akan kehilangan sosok vokalisnya. Memang sih sedih, dan saya bisa membayangkan beratnya.

Tapi ini berbeda. Bayangkan, band itu seperti punya kutukan! Masak band itu ganti vokalis setiap band itu akan menambahkan sebuah poin diskografi mereka? Saya sampai speechless mau ngomong apa ke Mr. X itu. Karena saya tau persis perjuangan mereka dulu. Saya tau bagaimana perasaan mereka sewaktu kehilanggan vokalis pertamanya. Saya tau bagaimana perasaan mereka waktu kekosongan lini vokalis.

“Kenapa nggak lo pertahanin?”
“udah susah”
“yah…tapi kan.. mencari yang baru lebih susah lagi”
nyari personil baru kayak nyari istri. kali ini harus cocok. gue ga mau kayak gini lagi”

You gotta fight for your right to party

April 12th, 2007 by aulianaratama

Fight For Your Right (To Party)

You wake up late for school - man you don’t wanna go
You ask you mom, “Please?” - but she still says, “No!”
You missed two classes - and no homework
But your teacher preaches class like you’re some kind of jerk

You gotta fight for your right to party - Beastie Boys

Beberapa minggu yang lalu, saya baca di majalah Provoke! disitu ada suatu tulisan Darto tentang dance culture yang telah berubah di Jakarta. Sebenarnya saya udah 4 tahun belakangan nggak pernah lagi ber-dugem-dugem ria. Yes, i go to the club for the music. I dont drink. Just music and its atmosphere.

Sekarang profesi saya adalah memanage event-event yang diselenggarakan oleh perusahaan. Dan tanggal 21 besok perusahaan kami mendatangnya seorang solo vocal berasal dari London; Tasita D’Mour. Konsep acaranya sih ajeb-ajeb, karena konsep musiknya dia adalah House. Kami mengarrange semuanya, mulai mencari venue yang dugem banget, kerjasama dengan DJ ternama, yah pokoknya di arrange se-happening mungkin deh.

Sewaktu saya meeting dengan venue tersebut, saya nggak sengaja menanyakan masalah dress code dan semacamnya. Mereka bilang kalau dress up is a must, cowok ga boleh pake t-shirt dan cewek harus berhigh heels. Saat itu saya ingat tulisan di majalah yang saya baca. Ternyata bener ya… Dance culture itu berubah. Kalau kita ingin masuk club pasti disortir dulu. Seleksi fashion dan bahkan seleksi tampang. Pantesan, waktu band saya arrange launching di suatu pub di taman ria, banyak teman yang bilang “Wah gue baru sekali ini masuk kesini pake kaos!”

Saya pikir tadinya cuma club berinisial “C” aja itu yang menerapkan peraturan seperti itu. Anas, Manajer ELI juga pernah cerita tentang hal ini. Dia pernah nggak dibolehin masuk karena nggak pake high heels. Dan ada juga temen cerita kalau dia pernah ke club cuma dengan dandanan biasa (bahkan bisa dibilang geek, yes he’s totally geek!), dibolehin masuk sih tapi di pintu masuk dia dipaksa untuk beli minuman. Yah seakan-akan dia ga punya duit atau apa. Yang paling parah, ada temen saya.. ya… dia bisa dibilang aktor sinetron nasional lah haha. dia memang nggak doyan pakai dandanan formal Dan waktu itu pergi ke club terus diusir. Terang aja dia marah-marah, terus dia bilang saya sekuriti itu “MAS GUE PUNYA DUIT! GUA PENGEN MABOK DAN BAYAR!!”

Sekali lagi saya kutip dari majalah itu: “Rindu jaman-jaman itu, kita pake kostum gokil2an dan glowing stick”. Dan saya berpikir lagi.. Iya ya. Kayaknya sekarang udah nggak ada kayak gitu-gituan.Semalem saya berdebat dengan magical mystery friend saya mengenai hal ini. Dia setuju kalau dance culture ini udah bener-bener berubah. Mind set semua orang kalau ingin ke club adalah ya lo harus berpakaian seperti mau kondangan. She said its patheticTerus? Gimana mau dance? Gimana mau rave?

Tahun-tahun terakhir saya menghabiskan waktu cuma di suatu bar yang bernama Parc dan ke club dimana Javabass menyelenggarakan event. Parc dan Javabass itu memang ga pernah peduli dengan peraturan-peraturan fashion itu. Makanya saya nggak pernah sadar kalo sekarang udah ada peraturan tersebut. Ini merupakan pelanggaran hak untuk berparty! Semua orang mempunyai hak untuk berparty bukan? You gotta fight for your right to party! Party bukan kondangan kan? Semua orang berhak mengekspresikan siapa dirinya. Mau dia pakai bikini, mau pakai kaos, mau pake jeans bolong-bolong, mau pakai sendal, mau pake boots, mau pake baju korpri, whatever lah. Kita kan mau party! Jadi merindukan jaman-jaman Rhytm Unity. Haha mungkin rave party pertama yang pernah ada di jakarta itu ya? Phosphor lights dimana-mana, cewek berkostum angel, bawa lightsaber, bakar dupa, Indra7 bertopeng Darth Vader, saya pakai baju safari pak lurah, anak industrial ber-newRock dan berleather pants.

Next project, doakan saya mau bikin event yang di bawahnya ga ada tulisan NO SHORT, NO SANDALS, blabla itu.

Yes You Gotta Fight For Your Right To Party!!

Hak Cipta, Copyright, apalah you name it!

April 12th, 2007 by aulianaratama

Hak Cipta, Copyright, apalah you name it!

Hari ini dikantor saya sedang ramai-ramainya orang, dan tiba-tiba ada 4 orang yang datang. Mereka datang sambil “memamerkan” sebuah sertifikat hasil seminar dan simposium. Seminar yang diselenggarakan KCI mengenai Hak Cipta.

Saya sih udah muak total denger kata-kata KCI dari 6 bulanan yang lalu saat kita mau rilis album dan survey mengenai pita pajak itu. Disatu sisi, memang melidungi karya-karya seseorang, tapi dilain sisi makan hati juga. Bahkan tadi ada beberapa musisi profesional yang kebetulan nongkrong di kantor langsung teriak “HAH! Apa itu KCI?! ITU PREMANISME TERSELUBUNG!”

Kita studi kasus aja deh biar bisa tau makna Premanisme terselubung itu. Suatu hari ada owner distro terbesar di Jakarta curhat ke saya. Dia pernah dituntut oleh KCI karena dia memutar CD yang diperdengarkan di distro-nya itu. Kata institusi tersebut, distro ini melanggar hukum dan dia diharuskan membayar royalti karena memperdengarkan karya didepan umum. Padahal juga sih, dia memutarkan lagu-lagu band yang (mungkin) nggak (bakal) mendaftarkan ke KCI seperti Hardcore band, Independent band, punk band, etc. Dan dia pasti memutar CD band yang menitip-jual ke distro itu. Band mana yang nggak seneng kalo lagunya diputer di distro itu. Si pemilik distro itu akhirnya menang karena bapak-bapak KCI nggak menemukan artis-artis yang tertera di-listnya. Dan sempat-sempatnya si pemilik distro ini teriak ke bapak-bapak KCI ini “EH PAK TUH TUKANG TEH BOTOL NYETEL PITERPEN! TUNTUT AJE!”

Yang kedua ada sebuah record store di Jakarta yang pernah diubek-ubek oleh institusi sialan itu. Semua CD album band-band bawah tanah yang nggak ada pita dan IFPI code (karena mereka produksi dibawah 1000) dibilang CD bajakan! Edan ga tuh? Kenapa sih mereka nggak uber-uber aja lapak-lapak bajakan yang dipinggir jalan?

Yang ketiga, tau nggak sih pada saat (alm) Chrisye sakit, keluarganya minta ke institusi itu royalti-royalti hasil “perasan” mereka. Dan apa hasilnya? Kabarnya, istri dan anak mereka nangis-nangis karena royalti itu nggak dibayarkan. Terus kemana duit itu? Kalo misalnya dibayarkan nggak masalah deh. Nah ini kok si artisnya malah ga dapet apa-apa?

Terus kalau Nouvelle Vague manggung? Kan bawain lagu orang semua tuh? Dituntut ga? Pusing kan? Mana keadilan? Mending ga usah ada yang namanya hak cipta itu lah….

Klakson dan Jalanan Jakarta

April 12th, 2007 by aulianaratama

2 bulan yang lalu saya sempat merasakan mengendarai mobil di negeri tetangga, Malaysia. Ini tergolong naked nekad juga sih, lha wong SIM internasional aja ga punya. Sebenernya sih karena Nazier, organizer kita kecapean bawa Van-nya dan langsung saja saya menawarkan menyetir (awalnya cuma bercanda). Eh dia langsung ngasih kunci Van itu, dan saya bilang “are you sure? i dont have any international license”, dia jawab “sure. you can drive in jakarta, thats means you can drive anywhere in the world..”

Dilihat dari segi peraturan sih 90% sama dengan di Indonesia; jalur kiri, setir kanan, sign yang sama. Tapi ada satu hal yang mengganjal ketika mengendarai Van itu di jalanan negeri Jiran itu, yaitu “KLAKSON atau HORN”. Mungkin kita di Indonesia nggak bisa lepas dari yang namanya klakson. Tapi di negri itu klakson hanya boleh dibunyikan pada saat darurat saja. Bahkan pada saat macet total karena mobil depan kita orangnya ketiduran di mobil, kita ga boleh klakson. Mungkin bagi orang yang nyetir mobil, pasti susah lepas dari klakson. Coba deh, pernah ngerasain ngelepas klakson dari mobil, pasti si supir itu merasa tidak percaya diri dan cupu di jalanan haha. Dan pada saat itu saya benar-benar gatel mau klakson. Bahkan waktu bertemu perempatan yang nggak ada traffic lightnya, kita yang biasanya klakson untuk beri peringatan aja nggak boleh. Saat itu saya berpikir peraturan penggunaan klakson ini aneh banget.

Sebulan belakangan ini, saya selalu mengukur jalan jakarta dengan motor Mio karena Silvy kesayangan dijokul ayah haha. Dan saya tiba-tiba merasa kalau pemakaian klakson perlu diterapkan di Jakarta. Gila betul, setiap ada mobil klakson, suaranya benar-benar memecah gendang telinga kita para pengendara motor. Nggak cuma mobil sih, kadang ada juga motor dengan klakson “kebo”, klakson “kapal” dan semacamnya yang suaranya benar-benar peak! Belum lagi truk, metromini, dan keluarganya dengan klakson terompet itu. Okay, bagi orang-orang yang bekerja tanpa memakai telinga mungkin tidak terlalu masalah. Tetapi bagi saya dan beberapa orang yang berprofesi sebagai soundman, musisi, A&R, dan masih banyak lagi profesi yang menggunakan daya dengar pasti sangat menyakitkan. Kami dilatih untuk peka terhadap suara. Bayangkan, kita terbiasa untuk mencari detail-detail suara, kemudian terjebak di kemacetan dengan suara klakson truk 120dB keatas. Aduh bisa hancur gendang telinga lama-lama. Terus kalau gendang telinga pecah? Gimana cara kerja? Gimana dapet duit?

Kalau sekarang band disko bernama The Upstairs sedang berkampanye damai, saya sedang berpikir untuk buat kampanya “KAMPANYE TANPA KLAKSON” haha. Tiba-tiba saya merindukan jalanan Malaysia yang bebas dari klakson. Bebas klakson dulu deh.. baru mimpi Jakarta bebas macet. Pak bapak DLLAJR (or whatever lah) mari dibuat peraturan penggunaan klakson, kan udah berhasil tuh penggunaan seat belt dan lampu motor, kenapa enggak?